Menu

Polbangtan YoMa-DPR RI Optimalkan Budidaya Bawang di Temanggung

Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) bersama Komisi IV DPR RI kembali menyelenggarakan bimbingan teknis peningkatan kapasitas penyuluh dan petani. Bimtek dengan tema utama “Pengembangan Budidaya Bawang Putih, Bawang Merah, dan Cabai,” ini diikuti petani dan penyuluh dari Kabupaten Temanggung, Sabtu (20/3/2021).

Pemilihan Temanggung sebagai lokasi bimtek bukan tanpa alas an. Ya, sejauh ini Temanggung dikenal sebagai salah satu daerah andalan penyokong produksi bawang putih nasional demi terwujudnya swasembada pangan.

Tahun ini Temanggung mendapat alokasi benih bawang putih untuk ditanam di lahan seluas 150 hektare. Hanya, selama ini sebagian besar hasil produksi bawang putih Temanggung hanya untuk melayani kebutuhan benih nasional. Ini menjadi persoalan tersendiri. Pemkab Temanggung berharap produksi bawang putih bisa masuk pasar konsumsi. Sehingga pendapatan petani pun ikut meningkat.

Menyikapi hal tersebut, Plt Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP menyatakan, untuk meningkatkan produksi bawang putih, para penyuluh dan petani perlu meningkatkan pengetahuan. Khususnya mengenai teknik budidaya dan penanganan pasca panen. “Kami bersama DPR RI mencoba memfasilitasi kebutuhan bapak ibu sekalian lewat bimtek ini,” ujarnya.

Dalam bimtek tersebut, petani dan penyuluh akan diberikan informasi tentang pemilihan varietas bawang putih yang cocok untuk bibit maupun konsumsi. Disampaikan pula mengenai rantai agribisnis komoditas hortikultura. Sehingga petani dapat menembus pasar konsumsi.

Wahyu Wigati, pemateri yang juga pelaku agribisnis bawang putih menyebutkan, beberapa varietas bawang putih yang cocok ditanam di Temanggung yaitu geol, lubu ijo, dan lubu kuning. Masa panen bawang putih yang ditujukan untuk bibit berkisar 105-115 hari. Sedangkan bawang putih konsumsi butuh waktu 120 hari atau lebih. “Budidaya bawang putih cukup menguntungkan jika kita dapat mengontrol harga pasar,” katanya.

Untuk memperoleh keuntungan, sambung Wahyu, minimal harga yang dipatok untuk bibit bawang basah adalah Rp 10 ribu – Rp 12 ribu per kilogram. Sementara harga setengah kering Rp 12 ribu – Rp 14 ribu. Sedangkan untuk konsumsi bisa mencapai Rp 20 ribu per kilogram.

Hasil panen bawang putih asal Temanggung pernah dipuji Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Tahun lalu, Menteri SYL mengatakan, bawang putih Temanggung terkenal dengan aromanya yang lebih tajam dibanding bawang putih impor. “Bawang putih kita memang berbeda dengan bawang putih impor. Agak kecil memang, tapi aromanya lebih sedap, lebih tajam, lebih kuat dibandingkan yang ada,” tuturnya di sela panen raya bawang putih di Temanggung kala itu.

Untuk mendapatkan kualites super sesuai permintaan pasar, SYL mendorong perlunya pengembangan budidaya secara kontinyu.

Merespons arahan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr menekankan pentingnya pengembangan SDM sebagai tonggak pembangunan pertanian nasional. “SDM, teknologi, dan pemangku kebijakan harus saling mendukung dan bersinergi dengan baik. Agar tujuan pembangunan pertanian nasional dapat terwujud,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Vita Ervina mengatakan, bimtek merupakan langkah paling dasar untuk membantu pengembangan kapaistas SDM pertanian. Dia berharap, seluruh peserta dapat mengembangkan pengetahuan yang didapat secara mandiri. “Pemerintah daerah juga perlu memberikan dukungan penuh untuk menindaklanjuti hasil bimtek kali ini,” pintanya.

Source : https://radarjogja.jawapos.com/pertanian/2021/03/22/polbangtan-yoma-dpr-ri-optimalkan-budidaya-bawang-di-temanggung/

Tinggalkan komentar