Evaluasi Dampak Peternak Sapi Potong di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang

Oleh, Ir. Sri Rahayu, MM dan Ir Sunarsih, M.Sc

Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (PSDS-2014) merupakan salah satu program prioritas Pemerintah dalam lima tahun ke depan untuk mewujudkan PSDS 2012 asal ternak berbasis sumberdaya lokal. Pencapaian swasembada daging sapi merupakan tantangan yang tidak ringan, karena pada tahun 2009 impor daging mencapai 70 ribu ton dan sapi bakalan setara dengan 250,8 ribu ton daging (Ditjenak, 2010). Angka ini kira-kira meliputi 30% dari kebutuhan daging nasional. Bahkan ada kecenderungan volume impor terus meningkat menjadi sekitar 720 ribu ekor sapi pada tahun-tahun mendatang. Hal ini dapat menyebabkan kemandirian dan kedaulatan pangan hewani, khususnya daging sapi, smakin jauh dari harapan, dan menyebabkan Indonesia masuk dalam perangkap pangan (food trap) negara ekportir.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas :

  • Wilayah Kabupaten Magelang yang mempunyai ketinggian antara 202-1.378 m diatas permukaan laut dengan rata-rata ketinggian 360 m dan dikelilingi oleh beberapa pegunungan, merupakan daerah yang sangat subur dan sangat potensial untuk pengembangan peternakan sapi potong.
  • Ketersediaan lahan untuk pengembangan HMT masih luas.
  • Terdapat tiga pasar hewan dengan kapasitas 300 sampai 700 ekor sapi.
  • Terdapat 2 RPH (Grabag, Muntilan)
  • Terdapat 13 peternak/kelompok/pengusaha ternak sapi potong dengan rata-rata pemeliharaan 30-50 ekor untuk perorangan dn 750 – 2000 untuk pengusaha.

Dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Magelang, penulis ingin meneliti bagaimana dampak dari usaha budidaya sapi potong yang diusahakan oleh para peternak dengan skala yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui proses pemberdayaan dalam kelompok (ada kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh fasilitator bersama masyarakat); 2) Mengetahui dampak dari program usaha budidaya ternak sapi potong sebagai hasil akhirnya.

  KERANGKA PIKIR

            Usaha ternak sapi potong merupakan usaha yang dilakukan oleh peternak di Kecamatan Sawangan dengan mengelola input produksi yang tersedia dengan sega pengetahuan dan kemampuan untuk memeperoleh hasil (produksi), dengan proses pembelajaranyang ada.

            Biaya-biaya produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan untuk biaya usaha ternak sapi potong adalah biaya bibit, kandang, peralatan, pakan dan tenaga kerja mempengaruhi produksi / hasil yang diterima. Jumlah produksi yang dihasilkan akan mempengaruhi penerimaan peternak, dimana besarnya produksi tersebut ditentukan oleh produktivitas usaha ternak. Penerimaan juga dipengaruhi oleh harga jual produk, dimana penerimaan adalah jumlah produksi dikalikan dengan harga jual.

            Selain hal tersebut para peternak yang berusaha secara berkelompok atau yang menjadi anggota kelompok tidak lepas dari pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh dan fasilitator sehingga terdapat proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam berusaha sapi potong.

Berdasarkan  keterangan diatas secara skematis kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut :

cover artikel budatik

Jumlah ternak sapi potong 11,567 ekor, ± 16,92% dari keseluruhan populasi yang ada di Kabupaten Magelang  

HASIL PENELITIAN

            Keadaan peternak di Kecamatan Sawangan  sebagian besar berumur 30 tahun lebih, hanya 1 orang yang berumur kurang dari 30 tahun,dengan jumlah tanggunga anggota keluarga per KK 3 sampai 5 orang. Peternak tersebut sudah berpengalaman memelihara sapi potong sangat bervariasi, dimana ada yang baru 1 tahun memelihara, namun juga ada yang sudah 40 tahun memelihara sapi potong. Apabila dirata-rata, peternak tersebut telah 15 tahun  memelihara sapi potong.

      Evaluasi dampak yang dilakukan di Kecamatan Sawangan adalah salah satu evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui tujuan program sektor peternakan yaitu  meningkatkan pertumbuhan berat badan sapi dari 0,45kg/ek/hr menjadi 0,8kg/ek/hr dapat tercapai. Umur bakalan sapi rata-rata 18 bulan, dengan lama pemeliharaan selama 7 sampai 8 bulan. Peternak sudah memberikan pakan konsentrat pabrik, disamping hijauan makanan ternak. Pertambahan bobot badan perhari yang bisa mencapai 0,8 kg/ekor/hari dari 30 orang peternak ada 9 orang (30 %), sedang 70 % peternak belum bisa mencapai pertambahan berat badan yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,antara lain:

1)      Pemberian Pakan

Pakan hijauan yang diberikan pada setiap harinya kurang lebih 25 kg,berupa rumput dari tegal sedangkan konsentratnya diberikan rata-rata 2 kg, dengan berat badan awal sapi rata-rata 203 kg. Menurut Chalik Chadist (2012) Sapi yang dikandangkan pakan hijauan diperoleh dari ladang,sawah atau tempat lain.Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10 % dari berat badannya dan pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan.Sedang ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul,gaplek, ampas tahu dan lainnya.Berarti peternak telah memberi pakan dengan jumlah cukup,dimungkinkan berat badan sapi tidak meningkat karena kualitas pakan yang kurang baik. Bila  kualitas konsentrat yang diberikan mempunyai kandungan protein yang rendah dan pakan hijauan juga seadanya dapat menyebabkan berat badan tidak bertambah,disamping itu memang ada peternak yang hanya memberikan berupa bekatul saja atau bekatul dicampur dengan ketela pohon.

2)      Pemeliharaan Kandang

Kandang sapi msih banyak yang ditempatkan dekat rumah dan tertutup rapat.Kotoran ternak ada yang sudah ditimbun ditempat lain,namun sebagian besar keadaan kandang masih kotor,kecuali yang sudah punya kandang kelompok didesa kapuhan,keadaan kandang sudah terawat baik.

3)      Apabila dilihat dari adanya proses pembelajaran yang ada dari 30 peternak, yang sudah mengikuti penyuluhan tentang sapi potong 14 orang,sedang yang mengikuti latihan baru 11 orang,boleh dikatakan penyuluhan tentang sapi potong volumenya masih kurang atau belum teratur waktunya.

4)      Pendapatan

Pendapatan peternak sangat bervariasi, dimana dengan pemeliharaan selama 7,8 bulan pendapatan rata-ratanya Rp. 2.754.284 dengan pemeliharaan sebanyak 3 ekor sapi. Dari 30 orang peternak sebanyak 24 orang mendapat untung sedang yang 6 orang mengalami kerugian.

KESIMPULAN

1.    Berdasarkan tujuan program baru 30 % peternak yang dapat meningkatkan berat     badan sapi hingga  0,8 kg per ekor per hari.

2.    Proses pembelajaran untuk peternak sapi potong belum berjalan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrometer.com/partikel/560/pemeliharaan_dan_pemberian_pakan_ternak_sapi_potong. 27-11-2012

Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2011. Potret Ternak di Kabupaten Magelang per 1 Juni 2011. Diakses 7 Juni 2012. magelangkab.bps.go.id

Chalik Chadit. Blogspot.com/2012/02/manajemen-pakan-pada-ternak-sapi-potong-htm. 05 Februari 2012

Mardikanto, T. 2010. Sistem Penyuluhan Pertanian. Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press). Surakarta.

Mulyadi, A. dan Marsandi. 2007. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang. Strategi Pakan pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan  Pengembangan Peternakan, Pasuruan

Rasyid dan Hartati. 2007. Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Balitbang Pertanian. Bogor.

Sastraatmadja, E. 1986. Penyuluhan Pertanian PT. Alumni. Bandung.

Subangkit, M. dan Sarwono, 2004. Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugeng, B. 2005. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta. www.potalju.tk

Tinggalkan komentar