Menu

Polbangtan YoMa Jawab Tantangan Pendidikan Vokasi di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 menyebabkan seluruh instansi pendidikan di Indonesia, mau tak mau, harus menjalankan proses perkuliahan secara daring. Bagi civitas akademika Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Untuk tetap menjalankan proses perkuliahan. Demi terciptanya milenial muda pertanian berjiwa agropreneur.

Konsekuensi perkuliahan di masa pandemi ini, Polbangtan YoMa harus menyusun kurikulum baru. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi terkini. Terkait hal tersebut, dosen, calon dosen, pranata laboratorium pendidikan (PLP), calon PLP, dan staf bagian administrasi akademik Polbangtan YoMa Kampus Magelang melaksanakan kegiatan persiapan pembelajaran dalam rangka bedah kurikulum.

Kegiatan yang  diikuti 50 peserta tersebut digelar selama tiga hari pada 8-10 September 2020 dengan menghadirkan beberapa narasumber. Di antaranya, Manager Breeding and Hatchery PT Januputra Gunungkidul drh Sri Mulyani, Maneger NuFeed Grobogan drh Totok Setyarto, dan Mustafa ST MM Mkom dari Balai Industri Kreatif dan Digital, Semarang. Ketiganya hadir bertatap muka dengan peserta bedah kurikulum. Sedangkan dua narasumber lain mengikuti acara secara daring. Yakni Sekjen Akademi Ilmuwan Muda Indonesia Dr Berry Julaindi SSi MSi (FMIPA, IPB) dan Deeng Sanyoto dari TaniHub Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP berpesan, dalam bedah kurikulum, dosen ibarat layaknya dokter spesialis bedah. Yang sangat tahu pasien kurikulum tersebut akan dibedah. Yakni kedalaman dan keluasan bobot sistem kredit semester (SKS). Serta kontribusi terhadap capaian pembelajaran. Sehingga bisa menghasilkan struktur kurikulum yang mampu menciptakan profil lulusan Polbangtan YoMa sesuai program studi masing-masing.

Ketua Panitia Bedah Kurikulum Giyarto SST mengatakan, kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan kajian, bahan pelajaran, serta cara penyampaiannya. Juga penilaian hasil belajar yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi. “Di masa pandemi ini perlu adanya penyesuaian kurikulum  yang terdiri atas capaian pembelajaran, deskripsi mata kuliah, standar kompetensi, dan pemenuhan standar program studi untuk dapat mencapai profil lulusan yang diharapkan,” ungkap Giyarto yang juga menjabat sebagai Kasubbag Administrasi Akademik Polbangtan YoMa Kampus Magelang.

Sementara itu, Berry Julaindi menjelaskan, masa new normal pandemi Covid-19 tantangan perguruan tinggi makin besar. Perang teknologi memerlukan sinergi antara perguruan tinggi dengan industri (DUDI – dunia usaha dunia industri). Dengan harapan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas dan terampil. “Riset di vokasi saat ini harus inovatif, hilirisasi hasil riset, haruslah riset terapan (yang diperlukan nyata oleh industri, Red),” jelasnya.

Sedangkan Mustafa mengatakan,  technopreuner merupakan validasi dari ide. Semua serba teknologi. Oleh karena itu, perguruan tinggi vokasi tidak boleh ketinggalan perkembangan teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Deeng Sanyoto menyatakan, saat ini zamannya agritek platform. Dari situ perusahaannya membuka peluang bagi mahasiswa Polbangtan yang ingin magang di TaniHub. “Mahasiswa akan kami seleksi seperti menyeleksi karyawan. Mereka akan kami terjunkan langsung ke proses industri. Dari hulu ke hilir. Supaya bisa bersinggungan langsung dengan petani sebagai mitra kami,” ujarnya.

Tawaran serupa disampaikan Sri Mulyani. Menurutnya, lembaga pendidikan vokasi harus bisa menyiapkan lulusan sebagai job seeker yang kaya pengalaman. Untuk itu PT Januputra sangat terbuka bagi mahasiswa Polbangtan untuk magang. “Sesuai saran Mendikbud dengan perkuliahan sistem 6-1-1 (6 semester teori – 1 semester praktik lapang/magang – 1 semester tugas akhir),” jelasnya.(*/yog)

Sumber : https://radarjogja.jawapos.com/2020/09/10/polbangtan-yoma-jawab-tantangan-pendidikan-vokasi-di-masa-pandemi/

Tinggalkan komentar