Menu

Pengelolaan Pakan Itik/Bebek Masa Produksi dan Sebagai Penghasil Telur Tetas Dilokasi Lahan Kering serta Pengolahan Limbah Unggas

Dalam penyampaian bincang agribisnis kali ini mengambil tema “Pengelolaan Pakan Itik/Bebek Masa Produksi dan Sebagai Penghasil Telur Tetas dilokasi  Lahan Kering” yang di sampaikan oleh Nur Prabewi, S.Pt, MP adalah sebagai berikut Pakan  itik  masa produksi dapat dilihat dari Kandungan nutrisi Itik usia 22 minggu   ke atas ( 5,5 bln) yaitu terdiri dari Protein  16—18%, Energi 2.700 kkal/kg, Kalsium 2,90-3,25% dan Fosfor  0,47%. Pemeliharaan itik intensif  masa produksi sebagai  produksi telur konsumsi  yang menggunakan formulasi berupa bekatul yang dicampur konsentrat dan jagung dapat diberikan pada musim kemarau sebanyak 20 kg per 100 ekor itik dengan perbandingan 15 kg bekatul, 2 kg konsentrat, dan 3 kg jagung, sedangkan pada musim hujan jagung diberikan dalam jumlah lebih banyak. Hal ini bertujuan untuk menambah masukan protein yang menjaga kehangatan tubuh itik. Komposisi pakan itik 100 ekor sebanyak 20 kg pada musim hujan  ini terdiri dari 10 kg bekatul, 3 kg konsentrat, dan 7 kg jagung. Pengelolaan pakan untuk itik produksi sebagai telur tetas Bekatul  50 % , Jagung kuning giling 12.5 %,  Gabah ( digodog/ direbus ) 12.5 %, Konsentrat 144  25 % , Tepung ikan asin 1 sndk mkn/3kg, Ditambah dengan cincangan sayuran atau hijauan, seperti kangkung, genjer, dan batang pohon pisang. Untuk 100 ekor itik dewasa, diperlukan rata-rata 2-4 kg, Konsumsi pakan per ekor/hari dan  Konsumsi :  175 gr/ekor / hari. Selain itu harus kita perhatikan juga ukuran kandang itik  untuk 20 ekor itik betina dengan 2 ekor itik pejantan hal ini berguna agar lingkungan tidak tercemar bau dan untuk kandang beratap dengan ukuran lebar 2,1 m dan panjang 3,9 m dan lantai diberi alas merang padi, sedangkan untuk itik umbaran ada kolam airnya dengan ukuran 3,9 X 3,9 m.

Untuk kali ini penyampaian materi tidak hanya satu tema saja tetapi ada dua tema, hal ini di harapkan agar pendengar radio khususnya para petani peternak agar lebih dapat mendapat informasi mengenai unggas tidak hanya itiknya saja tetapi bagaimana cara mengolah limbahnya, untuk itu Ir. Magono,M.MA menambahkan temanya yaitu Pengolahan Limbah Unggas yang secara singkat dapat disampaikan sebagai berikut dalam peternakan unggas diperoleh beberapa cara untuk mengelola limbah yang dihasilkan, yang dapat dibagi dua yaitu yang pertama Manur Unggas tanpa Litter, yang dimaksud dengan manur unggas adalah limbah yang dihasilkan dari usaha ayam petelur dalam battery yang dibersihkan setiap waktu tertentu atau yang jatuh dalam pit tempat penyimpangan sementara di bawah kandang yang akan dibersihkan atau dikosongkan pada waktu tertentu pula dan yang kedua adalah Litter Unggas, yang dimaksud litter unggas adalah campuran manur dan litter yang dapat diperoleh dari usaha unggas petelur atau broiler yang dipelihara dalam deep litter selama 12-14 bulan, yang akhirnya dikeluarkan dari kandang dalam bentuk kering. Litter unggas mungkin lebih mudah tercerna secara anaerobik dalam kisaran total padatan efluent yang luas dibanding dengan manur unggas. Hal ini disebabkan oleh level N-amoniak dalam proses pencernaan tersebut, harus lebih rendah dan di bawah level yang bersifat racun. Karena litter unggas tersebut dalam bentuk kering atau padatan, maka akan banyak mendapat perlakuan dengan penambahan air yang minimal, mestinya hal ini merupakan kegiatan yang paling ekonomis.

Demikianlah bincang agribisnis kali ini semoga dapat bermanfaat bagi pendengar sekalian…..

 

Tinggalkan komentar